Blog EntryPT Sumatra Riang LestariMay 18, '09 8:56 PM
for everyone

Blog Entrykml tematic mappingMar 4, '09 1:20 AM
for everyone

Blog EntryHabis Banjir Terbitlah AsapFeb 26, '09 2:30 AM
for everyone

Setiap tahun terjadi  kebakaran hutan dan lahan. Kejadian ini sudah menjadi issu penting dan merupakan sebuah rutinitas yang menghabiskan APBN dan APBD yang cukup besar jumlahnya untuk pemadaman kebakaran. Belum lagi kalau dihitung dampak kesehatan terhadap jutaan masyarakat yang terkena dampak dari asap yang ditimbulkan.

Sampai Saat ini penanggulangan kebakaran hutan sebatas upaya pemadaman api pada saat kebakaran terjadi. Sedangkan perencanaan menyeluruh belum dilakukan bahkan dalam konfrensi pers yang dilakukan wakil gubernur riau yang juga menjabat sebagai ketua pusdalkarhutha (Pusat pengendalian kebakaran hutan dan lahan) baru baru ini tidak menggambarkan perencanaan yang utuh dalam penaggulangan kebakaran hutan dan lahan.

 

 

Link lainnya

Kebakaran Hutan dan Lahan di Riau : Penyebab, Dampak dan Solusi bagi Penetapan Kawasan Rawan Bencana

 

Download pdf

 

Selengkapnya lihat attachment

Attachment: Kebakaran dan Kawasan rawan bencana2.pdf

Blog EntryPelanggaran Tata Ruang (PT Satria Perkasa Agung)Feb 20, '09 9:15 PM
for everyone

Kabupaten                                         : Pelalawan      

SK Bupati Pelalawan                           : No. 522.1/PI/IX/2001/066    

Tanggal                                                : 29 September 2001

Luas                                                     : 12.000 ha

Kedalaman Gambut rata rata                : Lebih dari 4 meter

Pola Ruang Wilayah Nasional               : Kawasan Lindung (Lamp7 PP No 26 Tahun 2008)

Sumber Peta                                         : Cnes 2007

Attachment: Lembar Fakta Penataan Ruang (PT Satria Perkasa Agung).doc

Blog EntrySP 3 Kasus illegal logging RiauFeb 20, '09 6:39 AM
for everyone
PT Nusa Prima Manunggal
Attachment: SP 3 PT Nusa Prima Manunggal.pdf

Blog EntryDua Ribu Ha Hutan Riau TerbakarFeb 18, '09 10:16 AM
for everyone

Zulkifli yusuf (Kadishut Riau )
3 solusi Penanggulangan kebakaran hutan
1. Jangka Pendek: Pembuatan kanal kanal disekitar lahan yang sering terbakar
2. Jangka Menengah: Pembuatan Kebun diatas lahan yang sering terbakar
3. Pembangunan trio tata air, agar kebun2 yang sudah dibangun terlindung dari bencana kebakaran

Kebakaran terjadi akibat faktor kelalaian
90% persen kebakaran terjadi akibat ulah manusia, sisanya baru faktor alam
Kadishut pernah menyurati 60 perusahaan pemilik konsesi yang bertanggung jawab terhadap penyebaran titik api

DR Azizman Saad SPP (Dokter Spesialis paru)
Dampak Kesehatan Asap Bisa Menyebabkan kanker paru paru

Adnan Kasry (Pengamat Lingkungan)
Penanggulangan Kebakaran hutan Pesimis bisa dicapai Jika tata ruang diabaikan

Raflis (Kabut Riau)
Kebakaran terjadi akibat kanalisasi lahan gambut yang seharusnya dilindungi

Attachment: 2000 ha Hutan Riau Terbakar.pdf

Blog EntryMembangun Tanpa ArahFeb 9, '09 5:07 AM
for everyone

Rencana Tata Ruang Wilayah itu hanyalah lembaran dokumen, berisi peta dan pembagian peruntukan wilayah. Namun fungsinya sangat fital, ia ibarat kitab suci untuk lingkungan. Ibarat kompas bagi pembangunan jangka pendek, menengah dan panjang provinsi riau. Meski fungsinya sangat vital, karena bukan proyek mercusuar dan tidak pula populis, serta didalamnya banyak pula kepentingan, hingga kini provinsi riau tidak punya rencana tata ruang terbaru. Kecuali perda no 10 tahun 1994 yang masih berlaku, namun tak layak pakai.

Laporan ANDI NOVIRIANTI, Pekanbaru

andi-noviriyanti@riaupos.co.id

Selengkapnya, lihat lampiran

Attachment: Membangun Tanpa Arah.pdf

Photo AlbumSahabat AlamFeb 9, '09 3:48 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Blog EntryRumah Dibakar, Warga Mengadu ke Mabes PolriJan 3, '09 4:56 AM
for everyone

VideoRaflis.wmvOct 22, '08 9:11 AM
for everyone
Belajar buat film



Download this and other original video files with Multiply Premium.

Photo AlbumHTIJul 10, '08 4:55 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Blog EntryWajah Kota PekanbaruJul 6, '08 12:48 PM
for everyone

Citra Kota Pekanbaru
Attachment: pekanbaru.pdf

Photo AlbumGoogle earth FMIPA UNRINov 19, '07 1:16 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Google earth FMIPA UNRI

Kemungkinan dilakukannya Judicial Review terhadap RTRWP Riau

Jika Draft RTRWP Riau Tetap disyahkan oleh DPRD Riau tanpa dilakukan perubahan atau perbaikan sesuai dengan peraturan perundangan.

 

Berdasarkan draft RTRWP versi Mei 2007, pelanggaran atau pertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi diantaranya adalah:

  1. Terhadap Pasal 33 ayat 3 Undang-undang dasar 1945
  2. Terhadap UU 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
  3. Terhadap UU 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
  4. Terhadap UU 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan hidup
  5. Terhadap PP 47 Tahun 1997 tentang Tata Ruang Wilayah Nasional.
  6. Terhadap PP 10 tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta dalam Penataan Ruang
  7. Terhadap PP 69 tahun 1996 tentang Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang
  8. Terhadap  Kepres 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung
  9. Terhadap Kepmen Kimpraswil No. 327/KPTS/M/2002 tanggal 12 Agustus 2002 tentang pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Propinsi.

Dampak yang ditimbulkan jika Draft RTRWP 2001-2015 tetap disyahkan.

  1. RTRWP Riau Melegalkan pelanggaran terhadap Keputusan mentri Kehutanan No 137/Kpts-II/1986 tentang Tata Guna Hutan Kesepakatan
  2. RTRWP Riau Melegalkan pelanggaran terhadap Perda No 10 tahun 1994 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau.
  3. RTRWP Riau akan akan berdampak terhadap penggusuran/ pengusiran masyarakat lokal/ tradisional yang berada dalam kawasan lindung, (jika Undang-undang no 26 tahun 2007 berlaku efektif)
  4. RTRWP Riau akan menghilangkan hak-hak dan akses masyarakat terhadap sumberdaya alam. (terhadap konflik pengelolaan sumberdaya alam antara perusahaan dan rakyat, maka rakyat selalu berada pada pihak yang dirugikan)
  5. RTRWP Riau tidak menjawab persoalan bencana ekologis (kawasan rawan banjir) yang setiap tahun terjadi di 4 das besar di riau.

PEKANBARU-Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi yang kini sedang dibahas tim pansus DPRD Riau jika disahkan akan mengancam kelangsungan hutan alam di Riau. Dari 1.375 hektar hutan alam di Riau saat ini dengan Perda itu seluas 1.099 hektar hutan gambut akan berubah fungsi menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI). Hutan alam ini akan berubah menjadi hutan akasia untuk kepentingan usaha bubur kertas di Riau. Untuk itu, DPRD diingatkan untuk tidak gegabah dalam mengesahkan Ranperda ini sampai adanya kajian lebih mendalam. Hal itu diungkapkan Dudi Rufendi dari WWF Riau, Raflis dari LSM Kabut, Susanto Kurniawan dari Jikalahari dan sejumlah kalangan LSM lainnya yang concern pada lingkungan dalam diskusi dengan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPRD Riau, akhir pekan kemarin.

Selain berubah jadi HTI, hutan di Riau kini juga terancam akibat alih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Di mana jika saat ini terdapat seluas 741.904 hektar kebun kelapa sawit, maka dengan pengesahan itu nantinya akan terjadi konversi hutan sebanyak 335.975 hektar untuk kelapa sawit. Menurut Dudi maupun Raflis, sebelum Ranperda itu disahkan atau diteruskan dalam laporan kerja pansus di paripurna DPRD Riau hendaknya ada kajian lebih mendalam yang lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan. Secara aturan lingkungan pemberian HTI itu nantinya melanggar ketentuan karena terdapat kawasan gambut mencapai kedalaman 3 meter dengan memiliki kadar karbon sangat tinggi. Yang diizinkan hanya kedalaman 1 meter.

“Kalau Ranperda ini tetap disahkan tanpa pertimbangan hal ini maka akan banyak hutan alam berubah fungsi jadi HTI, Perda ini harus pertimbangkan keseimbangan ekologi,” ungkapnya dalam pertemuan dihadiri Ketua Fraksi PKS Nurdin dan anggota. Dudi menambahkan pihaknya tak menolak adanya kebun sawit tapi jika jumlahnya melebihi luas lahan cadangan maka itu akan membahayakan bagi kelesetarian hutan alam di Riau.

Disamping ancaman ini, pengesahan Ranperda juga akan memicu sedikitnya 325 konflik perizinan di Riau. Pasalnya izin-izin lahan banyak tumpang tindih. Konflik ini harus juga diperhatikan karena dampaknya sangat besar bagi masyarakat. Sementara itu Raflis menyebutkan sedikitnya ada 10 penyimpangan Ranperda RTRWP ini, bahkan opini yang berkembang dalam Seminar Nasional Pemaparan RTRWP Riau 2001-2015 di Hotel Pangeran pada tanggal 4 Juni 2007 terlihat bahwa banyak perlawanan yang dilakukan oleh kabupaten/kota yang ada di Riau terhadap draft diajukan. Menurut Raflis hal ini akibat ketidakjelasan argumentasi dari pemerintah provinsi dalam melakukan delineasi kawasan lindung dan budidaya. Di samping itu data yang dipakai untuk pembuatan buku rencana patut kita pertanyakan sehingga peraturan daerah yang dihasilkan tidak menjadi polemik serta tarik ulur kepentingan antara provinsi dan kabupaten. (yon)


Blog EntryIndonesia Raya (in midi format)Sep 23, '07 4:24 PM
for everyone

Photo AlbumwelcomeAug 26, '07 3:57 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

MusicProklamasi dan Indonesia RayaAug 17, '07 2:44 PM
for everyone
Untuk memperingati hari kemerdekaan marilah kita dengarkan lagu ini
Proklamasi dan Indonesia Raya   

Blog EntryInsentif RisetAug 17, '07 1:18 PM
for everyone

Link

Dr. Fahmi Amhar
Peneliti Utama Bakosurtanal

 

Suatu hal yang di negeri ini kita merasa paling terpuruk adalah ketertinggalan teknologi.  Kita punya banyak doktor lulusan universitas luar negeri, guru besar, peneliti utama dan juara olympiade sains tingkat dunia, namun teknologi kita hampir semuanya diimpor.  Teknologi impor itu mahal dan sering harus dibiayai dengan utang luar negeri.  Dan utang itulah yang kini membuat kita jadi makin terjajah.

Kita memang bangsa paling doyan membeli teknologi asing.  Sebagai contoh, jenis handphone Nokia tercanggih saja di seluruh dunia selalu mulai dijual dari Indonesia. Sayangnya, teknologi ini tidak bisa dikuasai dengan jalan sekedar membeli atau memilikinya.  Buktinya, ketika tak lama kemudian muncul model yang lebih baru lagi, kita mau tak mau harus membelinya lagi.  Jarang sekali terdengar cerita kita berhasil membuat produk teknologi lokal yang mampu menandingi produk impor.

Realitasnya teknologi hanya dapat benar-benar dikuasai bila faktor-faktor endogen (dorongan dari dalam) suatu bangsa mencukupi.  Upaya menyekolahkan anak bangsa ke luar negeri, atau mendatangkan pakar dari luar negeri dalam proyek-proyek di sini, realitasnya tak banyak menghasilkan. 

Karena itulah, kemudian pemerintah mencoba sejumlah insentif untuk meningkatkan faktor-faktor endogen yang akan mendorong para peneliti melakukan riset teknologi.  Insentif ini dapat berbentuk dana hibah riset yang diberikan dengan cara kompetitif.  Cara inilah yang paling bergengsi dan ”dilelang” ke seluruh lembaga penelitian pemerintah, perguruan tinggi hingga sejumlah LSM yang terkait riset.  Bentuk kedua dari insentif adalah dalam bentuk lomba-lomba ilmiah.  Sedang cara yang ketiga adalah dalam bentuk pengurangan pajak (tax-deduction), misalnya dari unit R & D perusahaan-perusahaan besar.

Di masa lalu, insentif yang paling terkenal adalah Riset Unggulan Terpadu, di mana bidang risetnya berorientasi pada taksonomi ilmu.  Karena itu dulu akan ada sejumlah proposal yang cukup spesifik dan canggih, yang orang perlu berpikir keras untuk membayangkan aplikasinya.

Kini, semua proposal insentif riset harus memilih satu dari enam bidang aplikasi real, yaitu (1) pangan; (2) energi; (3) kesehatan; (4) transportasi; (5) informasi & komunikasi; dan (6) hankam.  Bidang aplikasi hankam mencakup juga aplikasi untuk penanggulangan bencana.

Ini berarti bidang ilmu apapun harus diarahkan untuk mendukung enam bidang aplikasi tadi, termasuk ilmu-ilmu sosial atau bahkan ilmu-ilmu agama.  Artinya, seorang fisikawan nuklir boleh saja mengusulkan riset, tetapi harus diarahkan menurut aplikasinya misalnya (1) nuklir untuk memuliakan varitas tanaman padi; (2) aspek-aspek dalam pembangkitan energi nuklir; (3) nuklir untuk terapi kanker; (4) masalah pengangkutan bahan bakar nuklir; (5) sistem informasi keselamatan reaktor; dan (6) masalah-masalah nuklir dalam pertahanan. 

Sedang ahli geografi dapat meneliti misalnya (1) analisis kesesuaian lahan tanaman pangan; (2) GIS untuk optimasi lokasi pengembangan energi nabati (biofuel) skala besar; (3) mempelajari pola penyebaran flu burung secara spasial; (4) sistem informasi posisi bagi optimasi armada angkutan; (5) analisis spasial untuk optimasi posisi stasiun transceiver; (6) model spasial untuk evakuasi tanggap darurat.

Demikian juga, peneliti ilmu-ilmu sosial (termasuk agama) dapat meneliti misalnya (1) Masalah-masalah kultural dalam diversifikasi pola makanan; (2) Respon masyarakat dan dunia industri atas inisiatif energi pemerintah; (3) Korelasi pelayanan kesehatan dengan indeks kesehatan masyarakat; (4) Dampak makro kehadiran busway pada mobilitas warga Jakarta; (5) Hubungan densitas ponsel pada kualitas SDM; (6) Mengukur kepedulian masyarakat pada bencana.

Pada tahun 2007, dari sekitar 8000-an pejabat fungsional peneliti dan puluhan ribu dosen dan peneliti di perguruan tinggi di seluruh Indonesia, masuk sekitar 5000-an proposal.  Dari jumlah yang lumayan ini kemudian akan diseleksi dan nantinya mungkin hanya sekitar 10% yang akan dikabulkan untuk didanai. Secara nominal insentif riset ini memang tak terlalu besar, yakni hanya berkisar 100 - 500 juta Rupiah per judul per tahun.  Ini termasuk untuk honor, keperluan pengadaan alat dan bahan, perjalanan dan lain-lain. 

Anggaran riset di negeri ini memang masih teramat kecil dibandingkan APBN, apalagi dibandingkan Produk Domestik Bruto yang hanya 0,05 %.  Bandingkan dengan Malaysia (0,69%), Singapura (1,89%), atau Jepang (3,12%).

Secara umum perbandingan para peneliti dengan pekerja juga menunjukkan Indonesia sangat rendah.  Kita hanya memiliki 5 peneliti per 10.000 pekerja.  Bandingkan dengan Malaysia (8), Korea (64) dan Jepang (99).  Ini baru dari segi kuantitas.  Kualitasnya pun masih payah.

 

Output

Selama ini program-program insentif riset masih belum menunjukkan output yang maksimal.  Output riset baru sebatas publikasi ilmiah saja – ini saja sering hanya publikasi lokal yang hanya diketahui kalangan terbatas.  Para peneliti hanya hidup di dunia mereka sendiri.  Jarang yang berusaha untuk juga membawa hasil-hasil temuannya agar dipakai masyarakat.  Atau mungkin mereka menganggap itu sudah tugas orang atau lembaga lain?  Repotnya bila orang atau lembaga yang dimaksud juga merasa tidak percaya diri untuk melakukan fungsi sosialisasi atau diseminasi produk hasil penelitian itu. Atau jangan-jangan hasil penelitian itu sendiri memang belum ”layak”?

Sebagai contoh Balai Besar Teknologi Tepat Guna milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan dari 60 penemuan TTG baru 5 yang dipakai luas di masyarakat (Kompas 19/6). Ada dugaan kuat bahwa ini semua karena ”mental inlander” yang masih menjamur di kalangan pengusaha ditambah hobby para penguasa yang hanya berburu rente (komisi proyek).

Di Indonesia ada ratusan Pusat, Balai Besar, Balai maupun Loka Penelitian berbagai ukuran dan tersebar di seluruh penjuru.  Namun gaung mereka kurang terdengar.  Meski pemerintah sudah membuat berbagai insentif riset, namun bila visi ilmiah ini tidak merata baik di pelaku penelitian, mahasiswa, pengusaha maupun para pejabat publik, maka sulit diharapkan teknologi kita akan berkembang.

Faktanya yang hidup di masyarakat justru budaya-budaya instan.  Orang lebih tergiur menjadi kaya mendadak dengan ikut ajang-ajang untuk menjadi selebriti.  Budaya mistik,  tahayul dan gaya hidup hedonis justru disebarkan media massa.  Dan para pejabat publik yang ”gaptek” tidak malu untuk bicara yang tidak didasari fakta ilmiah.

Walhasil meski ada insentif riset, banyak peneliti yang semi frustrasi, dan lalu lebih sering ”melacurkan diri” sebagai pengamat dan ”pengamen”, bukan sebagai pelaku riset yang menghasilkan karya-karya bermanfaat bagi ummat.


Blog EntryDEMO DI HUT RIAU Aug 12, '07 7:43 AM
for everyone

DEMO DI HUT RIAU

Sentral Gerakan Rakyat (Segera) mengerahkan ribuan massa mendemo kantor DPRD Riau, Kamis (9/8). Mereka berdemo untuk memeriahkan HUT Riau ke-50 sekaligus menuntut penutupan PT Arara Abadi. Massa ini bergabung dengan ratusan massa dari tiga elemen mahasiswa menuding perayaan HUT Riau hanya menghamburkan uang.
foto : cherry

http://www.metroriau.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3388&Itemid=1


Pages:12
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.